| Home Change Wujudkan Petarung follow |
|
Director : Alan Taylor Genre : Action Fantasy Cast : Chris Hemsworth, Natalie Portman, Tom Hiddleston, Anthony Hopkins, Jaimie Alexander, Kat Dennings Rate : PG-15 Dari dulu saya tak pernah 'tergila-gila' dengan film superhero. Oleh karena itu saya jadi jarang sekali menonton film-filmnya Marvel. Tapi adanya Tom Hiddleston di film ini, mitologi Norse yang membuat saya flashback sama Monsieur Vanaheim Tajifa Asgardr, membuat saya keluar dari zona nyaman saya dan akhirnya mengiyakan ajakan pacar yang memang hobi nonton film Action. Film ini merupakan sequel film Thor (2011) dan dimulai dengan scene pemutusan hukuman bagi Loki (Hiddleston) yang bersalah mengacaukan kehidupan di 9 dunia. Loki akhirnya dikurung oleh ayahnya, Odin di penjara Asgardr bersama penjahat-penjahat dari dunia-dunia lainnya. Sayang, seorang mata-mata Dark Elves yang menyamar menjadi penjahat dari Vanaheim yang berusaha mengambil kembali Aether, sumber kekuatan kuno Dark Elves untuk menghancurkan dunia yang penuh cahaya. Well, jika dibandingkan dengan film Thor (2011), film ini menggunakan efek yang jauh lebih rumit. Hal ini dapat dilihat dari efek Asgardr dan ilusi-ilusi yang dilakukan Loki. Pemilihan London dan Greenwich sebagai lokasi pertemuan 9 dunia juga cukup memberikan nilai tambah. Kostumnya juga luar biasa, apalagi topeng tentara Dark Elves yang sangat real dan membawa kesan tersendiri di keseluruhan film. Bagi saya, hero sesungguhnya di film ini tentunya Hiddleston yang sukses berakting sebagai seorang brokenhearted maniac :p. Film ini juga mendapat kesan fresh dari humor-humor dari Darcy (Dannings) dan para scientist. Surprise saya ketika tahu bahwa Alan Taylor itu juga menyutradarai GoT. Pantas saja gayanya terlihat familiar. Akan tetapi, beberapa hal yang saya tidak suka di film ini antara lain adalah banyaknya Goof yang membuat saya bingung dan terdistraksi selama menonton. Belum lagi potongan scene satu dan lainnya terasa kurang halus (misalnya: Jane Foster yang setiap masuk scene berantem di akhir pasti dengan berlari tak jelas. Heran) dan masih banyak lagi. Selain itu, menurut saya mungkin perlu pendalaman karakter Malakith-nya sebagai penjahat yang 'kembali dari kubur' selama beribu-ribu tahun. Mengapa dan horror yang ia bawa. Tidak semerta-merta langsung ingin menghancurkan dunia begitu saja. Overall, film ini lumayan menghibur terutama bagi orang-orang yang tak suka film action. Hehe. Rating dari saya 7/10. PSSTT: Jangan segera keluar dari bioskop ketika credits-nya mulai. Di akhir film akan ada beberapa scene yang mungkin akan menggambarkan sequel selanjutnya. Enjoy :) Labels: review Saya masih ingat dengan jelas, pertama kali dengerin Mocca itu adalah ketika temen SMP (Mbak Ika, Melati dan temen-temen lain di kelas 2 C. Hi guys! (: ) suka banget nyanyiin My Secret Admirer sore habis pulang sekolah, sebelum latihan nari. Liriknya bagus, ceria, dan benar-benar kena dengan kisah cinta monyet anak SMP. Namun saat itu saya belum tertarik untuk beli dan nyari tahu lagu-lagunya. Saya baru dengerin Mocca ketika ga sengaja beli kumpulan mp3 yang isinya lagu-lagu berbahasa Inggris. Entah kenapa di antara lagu-lagunya Linkin Park, Hoobastank dan Evanescence ada satu albumnya Mocca yang “Friends” dan beberapa lagu dari "My Diary" nyempil. Itulah pertama kalinya saya denger dan langsung jatuh hati pada lagu Mocca khususnya Me and My Boyfriend, I Think I’m in Love with You, And The Rain Will Fall. Mulai saat itu saya berusaha dengerin Mocca secara serius. Mulai saat itu pula saya mulai kenal band-band Indonesia yang 'sealiran' lah katakan. Band-band yang suka dengan musiknya sendiri ga perduli diterima atau ga oleh orang, musik yang jauh dari major label, musik yang luar biasa terkenal di negeri orang tapi dilupakan di negeri sendiri. Hehe, dan bermula dari Mocca lah saya bisa kenal temen saya Annisa Amalia. Walau satu SMP, kita ga kenal banget. Nyapa aja jarang ye Nisu? Hehe. Waktu itu kita kelas X di SMA dan kita jarang ngobrol. Hari itu hari apa ya? Saat pelajaran tari tradisional kayaknya, dia ga sengaja bergumam-gumam lagu Mocca yang And The Rain Will Fall dan saya nyambung dari belakang. Saya tahu tuh, pasti pertama kali denger saya nyambung, dia yang anak indie gaul Pontianak heran kali ya kok saya yang katakanlah anak-anak biasa aja bisa tau Mocca. Haha. Tapi semenjak itu kita temenan baik. Sampai saat ini kita juga masih temenan dan berbagi selera musik yang sama. Saya ingat dulu kita pernah naik ke lantai 3 sekolah kita yang belum jadi cuma buat ngeliatin langit yang mendung dan nyanyiin lagu And The Rain Will Fall sampai hujan bener-bener turun. What a day, ya Nisu? Now, due to personal business, carrier and future life, Mocca harus vakum untuk waktu yang entah berapa lama. Saya tidak menyesalkan keputusan Mocca untuk vakum karena semua orang punya sesuatu untuk dikejar kan? Hehe. ![]() Saya merasa sangat beruntung bisa join jadi volunteernya JAFF-Netpac yang memungkinkan saya nonton premiernya Mocca Rockumentary dan ngobrol-ngobrol ama sutradaranya langsung (well, ini pernyataan songong sebenernya. Just for two of us, pertama-tama saya nyangkain sutradaranya itu cuma mas-mas geje yang maksa-maksa orang beli kaos Mocca. Sekalinya pas premier, kok masnya maju dan diwawancara. Tahunya sutradara. huhu. Maaf ya Mas Ari T.T). Menurut saya dokumentasi konser dan beberapa gig Mocca ini memang dibuat dengan rapi dan sangat menyentuh. Warnanya beberapa dibuat sephia dengan kualitas musik yang sangat jernih. Pengambilan lagu yang masuk ke film dokumenter juga cukup memuaskan. Dokumenter ini dihiasi oleh potongan konser terakhir Mocca “Annabelle and The Music Box”, Secret Gig mereka di universitas yang mempertemukan mereka dulu ITENAS, wawancara di radio-radio, perjalanan Arina ke rumah bersejarah yang menelurkan Mocca, beberapa swingingfriends (ada yang ngantri tiket dari jam 1 pagi… crazyyy) dan masih banyak lagi. Di beberapa scene bisa dilihat Indra yang menangis diam-diam, Toma nyanyi dengan suaranya yang baguuus, Riko yang mengemudi dengan mata yang selalu di depan--bahkan saat diwawancara dan Arina yang jarang berkaca-kaca. Sigh. Dan seperti mbak-mbak yang komentar di premier kemarin, saya juga mau ngucapin terima kasih banyak bagi semua orang yang telah membantu dokumenter ini untuk ada sehingga bisa memuaskan dahaga kami (saya khususnya) terhadap Mocca secara visual J Oh iya sebelumnya, Happy Wedding Mbak Arina dan Mas Chris Miller (untung bukan Chris John). We’ll always wait for Mocca to come back coz i believe life keeps on turning.. Swing It Bob! Icha PS: Oh iya, hadiah buat Annisyong ada nih disini. Ini saya beli dengan hutang dulu 2 hari sama sutradaranya langsung dengan jaminan dari bosnya JAFF u_u : coba buka deh PS2: Oh iya, gara-gara Rockumentary ini saya pingin banget denger Mocca bawain Blablabla-nya The Cardigans :( Labels: JAFF Jogja, Keep On Turning, life, Mocca Rockumentary, music, review
Director : Hanung Bramantyo Genre : Drama Tagline : Masih pentingkah kita berbeda? Cast : Endhita, Revalina S. Temat, Reza Rahardian, Agus Kuncoro, Glenn Fredly, Henky Solaiman, Rio Dewanto Rate : PG-17 (for me) Saya menulis disini bukan untuk menghakimi apakah film ini sesat atau tidak. Atau setelah 2 jam berada di depan layar bioskop saya malah ikut mempertanyakan kembali keimanan saya. Tidak. Saya mencoba menulis untuk sekedar berbagi cara pandang saya, sebuah perspektif lain dari seorang gadis yang mungkin akan terdengar sok tau dan sok alim akan isu yang diangkat oleh film ini. Toleransi umat beragama memang berjalan di atas 'fragile line'. Jalannya begitu tipis seperti jembatan Sirotal Mustaqim yang hanya selembar helaian rambut. Hembusan sedikit saja bisa menumbangkan orang yang sedang meniti tepiannya. Padahal kenyataannya, Indonesia walau menyandang predikat sebagai negara dengan penganut muslim terbesar di dunia, masih saling sikut menyikut dalam urusan Sara dan keyakinan akan ke Maha Esaan Tuhan. Disini saya juga ikut melantangkan tanda tanya besar yang terpampang begitu jelas di poster film ini? Bukannya Tuhan itu satu, kita yang tak sama... Film ini bercerita mengenai beberapa isu rasial yang sering terjadi di Indonesia. Seorang ibu sekaligus seorang istri yang merubah imannya karena ditinggal poligami oleh sang suami, seorang yang taat beragama yang kesulitan mencari pekerjaan, seorang wanita berkerudung yang bekerja di rumah makan tionghoa dan sebuah keluarga cina yang ingin terus mempertahankantradisi untu 'saling bertoleransi'. Alur film ini berjalan lambat, dengan warna gambar yang menurut saya, terlalu gelap sehingga sedikit menganggu ketika menonton. Namun plotnya lumayan menarik, mulai dari dilema ibu yang baru beralih agama lain namun harus mengajarkan anaknya mengaji dan berpuasa, dilema seorang ayah dan kepala keluarga yang ekonomi keluarga ditopang oleh istrinya sendiri sampai dilema keluarga tionghoa yang menyajikan babi di rumah makan halal mereka. Pertanyaannya (setidaknya bagi saya) bukan apakah yang diajarkan di film ini sesuai syariat agama tertentu atau tidak. Bukan juga apakah film ini sesat atau tidak. Tapi penyajian fakta yang begitu lugas, begitu terus terang akan bagaimana isu-isu agama dan ras itu berjalan dalam koridor 'kebenaran' masing-masing yang tidak bisa dipersalahkan satu sama lain. Akhir film ini berakhir dengan sedikit tertebak, terlalu mudah malah. Namun cukup untuk membuat banyak orang merasa haru dan meneteskan air mata. Well, saya bingung sebenarnya bagaimana harus bersikap setelah menonton film ini. Saya masih mempercayai hal-hal dasar yang dari kecil dulu saya pelajari dari orang tua dan guru agama saya. Juga hal-hal pokok yang tertulis di Alquran dan Hadits. Namun saya tersentuh.. Haha.. Benerkan kedengarannya sotoy. But still, It worth to watch kok, at least :p Labels: review melarikan diri sebentar dari rutinitas yang menjemukan :) Tumben. Ya. Tumben, satnite kali ini saya ga galau :p #dilempar. Biasanya setiap satnite, saya seringkali tidak sadar telah menuliskan statement yang membuat teman-teman saya mencantumkan nama saya dalam akun jejaring sosial mereka dengan tuduhan "Galau" (Well, sebagian besar tuduhan itu benar, sayangnya). Tapi malam ini, (oke, saya ngaku) kegalauan saya sedikit terobati oleh Roomantique Night: Pensinya SMA 9 Yogyakarta. Sebuah acara yang menarik dan memuaskan (walau saya datang telat dan cuma nonton 3 performers aja). BRAVO!! #standingapplause Frau Risky Summerbee & The Honeythief endahNrhesa Overall acaranya seru. Walau tadi saya agak terganggu juga sama alat pembuat asap yang suaranya mirip machine gun. Ga worthless lah uang saya terbuang. Apalagi tadi ada meet and greet dadakan sama EndahNRhesanya. Semoga SMA-SMA di Jogja kembali mengundang musisi-musisi favorit saya yaaa. Kalau boleh, lain kali, saya mau request Adhitya Sofyan :p sebenarnya saya punya foto acara tadi, tapi karena kualitas kamera dan pengambil gambar yang bukan kelas profesional, mendingan ga ditampilin aja deh :p Director : David Frankel (2 episodes), Mikael Salomon (2 episodes) dll Genre : Adventure | Drama | History | War Tagline : They depended on each other. And the world depended on them Cast : Scott Grimes, Damian Lewis, Ron Livingston, Shane Taylor and many many more Rate : PG-17 (for me) Series ini, tak ayal menjadi sebuah maha karya bagi orang-orang yang menyukai genre film perang dan sejarah. Buktinya film ini ber-rating 9,6 dengan voters sebanyak 76,180 orang. Ha! Padahal menurut saya film dengan rating 7,5 di IMDB saja sudah waw. Series ini diangkat dari buku Stephen Ambrose—calon dokter yang berbelok menjadi sejarahwan militer—yang juga disadur dari kisah nyata para Citizens Solidier yang tergabung dalam Easy. Band of Brother adalah sejarah kompi bernama Easy Company dari 101st Airborne Division U.S Army. Sebuah kompi para penerjun payung legendaris di WWII mulai dari pelatihan mereka, Inggris, D-Day, Normandia, Belgium sampai ke Eagle Nest Hitler di Berchtesgaden, Germany. Ya, film ini memang berbeda dari film perang yang lain. Katakanlah... sebuah film perang yang manusiawi. Tidak melulu soal Jendral yang nama-namanya dituliskan dalam sejarah namun malah menceritakan tentara-tentara dengan pangkat rendah yang benar-benar mempertaruhkan nyawa di medan pertempuran. Memperlihatkan bagaimana seseorang yang begitu matang dalam melatih perang selalu tersesat ketika membaca peta, bagaimana seorang prajurit membeku dalam perang di bawah salju, bagaimana seseorang begitu takut dan lelah ketika melihat casualty yang terlalu sering terjadi. Dengan kata lain, memperlihatkan pada kita sisi perang dari sudut pandang man who never got to enjoy the world without war. Sudut yang menurut saya sangat humanis. Interview dengan para veteran Easy Company yang berada di awal dan di akhir film membuat kisah ini terasa sangat nyata. Apalagi ditambah dengan efek perang yang worth seperti suara tembakan, bom dan artillery yang dahsyat membuat kita benar-benar merasa berada di tengah-tenah sebuah peperangan sengit. Masing-masing episode dikemas dari sudut pandang orang-orang yang berbeda. Episode favorit saya adalah Bastogne yang diambil dari sudut pandang Doc Roe. Saya terhenyuh sekali melihat kegigihan dia untuk menyelamatkan orang diantara lautan peluru dan ledakan dan kegetirannya ketika ia harus bersembunyi dan menyelamatkan diri sendiri ketika teman-temannya menyambut gencatan senjata yang terjadi. Hiks. Apalagi quote dari Nurse Renee yang benar-benar made me realized how hard to be there... "Doc Roe: You're a good nurse. Renee: No. I never want to treat another wounded man again. I'd rather work in a butcher's shop." Secara keseluruhan, film ini tidak hanya menampilkan adegan-adegan yang menghibur dalam konteks 'tontonan dan penonton' tapi juga mengajari kita banyak. Mulai dari pengorbanan orang yang terlibat dalam perang, paradigma akan kematian dan kebrutalan manusia dan tentunya membuat saya yang awam soal banyak sekali istilah-istilah militer menjadi sedikit tercerahkan. Sebagai seorang yang tidak menyukai film perang (lebih karena saya tidak suka melihat darah daripada tembak-menembaknya), film ini tetap akan saya jadikan koleksi. Point: 9,3 :) And Crispin Crispian shall ne'er go by, From this day to the ending of the world, But we in it shall be remember'd; We few, we happy few, we band of brothers; For he to-day that sheds his blood with me Shall be my brother; be he ne'er so vile, This day shall gentle his condition: And gentlemen in England now a-bed Shall think themselves accursed they were not here, And hold their manhoods cheap whiles any speaks That fought with us upon Saint Crispin's day. ~ Henry V, Act IV, Scene 3. Shakespeare. PS: Ternyata James McAvoy main satu episode looooh! Cukup mengejutkan dan membuat saya bertanya-tanya apa bener itu dia! lol Labels: 30 hari menulis, review pictfromhere Gitanjali atau dalam bahasa Inggris disebut Song Offerings, merupakan kumpulan prosa dan puisi karya Rabindranath Tagore. Tak perlu membaca review dari saya untuk menyatakan kalau buku ini sangat indah. Banyak kritikus sastra, seperti W. B. Yeats yang menghargai buku sebagai sebuah karya agung. Karya yang mendatangkan Hadiah Noble Kesusasteraan bagi Tagore—orang Asia pertama yang mendapatkan kehormatan untuk menerima penghargaan itu. Aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Bengali baru kemudian hari diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Tagore sendiri. Untaian kalimat yang digunakan Tagore membuat hal-hal yang biasa kita temui terlihat begitu bermakna. Membuat kita yakin yakin betapa ia menghormati Tuhannya. Dengan rasa hormat yang begitu dalam, Tagore menunjukkan rasa syukurnya juga rasa cintanya yang begitu dalam. Menyalurkan rasa rindunya yang begitu besar pada KeMahaan yang Maha Kuasa. Buku ini begitu mistis menurut saya. Menggambarkan kedekatan dan keakraban Tagore pada Tuhan, membuatnya tak lagi takut dengan kematian. Ia menyambut takdirnya itu dengan tangan terbuka. Membuka mata saya akan banyak hal tentang hidup dan menyadarkan diri saya kalau selama ini saya kurang bersyukur.*sigh* Bacalah, dan anda akan tahu mengapa banyak orang memuliakan tulisan Tagore... Hari demi hari kau membuatku berharga dengan pemberian yang sederhana dan agung yang kau berikan padaku tanpa diminta — langit ini dan cahaya, tubuh ini hidup dan pikiran — menyelamatkanku dari bahaya akan gairah yang berlebihan. ~ Gitanjali, Tagore Ah... Happy 101010 everyone! Come make a special thing in this special day!>_< Labels: 30 hari menulis, book, life, review ![]() Director : Jong-kwan Kwon Genre : Comedy | Drama | Romantic Tagline : Love Hurts Cast : Woo-sung Jung, Su-jeong Lim, Tae-hyun Cha, Jung-ah Yum, Min-a Shin, Tae-yeong Son, Ki-woo Lee Rate : PG-15 deh.. Banyak orang yang menyangka film ini merupakan sebuah film plesetan seperti Scary Movies yang judulnya saja 'scary' padahal jalan ceritanya konyol. Apalagi melihat poster filmnya yang ceria dengan hampir semua pemain sedang tersenyum. Tapi tidak. Jangan tertipu dengan senyum yang ditampilkan di poster film ini. Tapi lihatlah gradasi kelam yang ditimbulkan hujan di latar belakang poster ini serta sorot mata mereka. This movie, i assure you, like it's title is indeed sad. You'll find no hope for Cinderella here.... "I wish I were sick instead of you" Film ini dibagi menjadi empat cerita berbeda yang masing-masing tokohnya memiliki masalah yang berbeda-beda pula. Ada kisah seorang pemadam kebakaran yang menunda melamar kekasihnya, ada kisah seorang gadis tuna wicara yang menjadi badut di taman bermain yang menyukai seorang pelukis jalanan, kisah seorang laki-laki tidak berpenghasilan yang berusaha mempertahankan cintanya dan kisah seorang anak kecil yang membaca kisah ibunya dari diary yang terlupakan. Kisah mereka unik dalam versi mereka sendiri dan berkaitan dengan cerita lainnya hanya secara tidak langsung, kecuali cerita tentang pemadam kebakaran dan gadis tuna wicara. Di awal film kita disuguhi adegan-adegan yang lucu dan ceria. Pengembangan background masing-masing cerita dan tokoh berjalan lambat dan dilakukan dengan teknik yang tepat sehingga penonton akan hanyut dengan chemistry ceritanya. Ditambah lagi dengan soundtrack yang manis dan ringan yang akan ter-rewind di kepala anda. Banyak sekali joke-joke yang akan membuat anda tertawa di awal-awal film ini. Membuat saya kembali berasumsi pada Teori Scary Movie tadi. Tapi ketika film sudah sampai ke perempat bagian akhir, semua berubah. Kesemua kisah itu berakhir dengan begitu tragis. Dilatar belakangi lagu yang halus dan lembut saya yakin hanya orang-orang 'hebat' yang tidak akan mengeluarkan air mata. "At least you can say 'I love you'. You better off than me." Kisah ini sebenarnya memiliki satu inti yang sama: 'perpisahan'. Bahwa bakan cinta yang begitu tulus pun akan mengalah pada keadaan dan takdir yang penuh dengan ketidak pastian. Menceritakan tentang perjuangan-perjuangan yang berujung bukan pada kegagalan, tapi bukan pula keberhasilan. Singkatnya, mereka kehilangan semuanya. Semuanya. Cerita ini mengajarkan saya bahwa kadang kita harus berhenti dan menyerah. Hahaha. Memang saya sih yang tidak optimis disini. Sejujurnya saya takjub dengan bagaimana orang-orang di Korea sana bisa begitu ber-skill dalam membuat sebuah melodrama yang begitu miris tanpa alunan cerita klasik 'jahat-baik' atau 'hidup-mati'. Cerita ini memang pada akhirnya menjadi mudah ditebak dan di beberapa ending terlihat sedikit dipaksakan tapi tetap saja film ini dengan gambarnya yang begitu indah dan akting pemain-pemainnya yang sangat bagus, sukses memainkan emosi penonton begitu rupa... Well, sad isn't always about tears. "Separation is another face of love" Rate: 8 / 10 Labels: 30 hari menulis, review ![]() Director: Sylvester Stallone Writers: Dave Callaham (screenplay), Sylvester Stallone (screenplay) and Dave Callaham (story) Genre: Action | Adventure | Thriller Starring: Sylvester Stallone, Jason Statham, Jet Li, Dolph Lundgren, Eric Roberts, Randy Couture, Steve Austin, David Zayas, Giselle Itié, Gary Daniels, Mickey Rourke. Tagline: Choose your weapon Alasan saya menonton film ini sebenarnya cuma satu: sedikit curios sama film yang ngalahin Inception di Box Office. Selain itu teman saya, Dio, kerjaanya cuma nyombong di ym kalo The Expendables itu bagus. Yah, sekalian ngehina saya karena release date film ini di kota saya agak terlambat sih. lol. Jadi, pas temen-temen saya yang lain ngajakin nonton film ini saya langsung bilang iya. Penasaran. Tanpa punya clue sekalipun film apa, tentang apa, pemerannya siapa. And you can't imagine how shock I am when I know that this is an All-Star Action Movie! :hammer: All in a packet. Mulai dari Rambo (Sylvester Stallone), Frank Martin in Transporter (Jason Statham), Randy The Wrestler (Mickey Rourke), Wong Fei Hung in Once Upon A Time in China (Jet Li) sampai Boss Maroni di Dark Knight (Eric Roberts). Serasa kembali ke 80's, eh? Film ini bercerita mengenai satu kelompok orang--berisi empat setengah pembunuh bayaran yang punya moto: If the money's real, so the job's real. Mereka ditugasi oleh orang yang mengaku bernama Mr. Church untuk membunuh seseorang. Target mereka adalah Jendral yang sedang melakukan kudeta di sebuah pulau kecil di Amerika Selatan, Vilenna. Pekerjaan ini berbahaya, tentu saja. Selain karena kekuatan militer yang jendral itu miliki untuk mengamankan pulaunya, juga karena si Jendral punya backingan seorang Amerika yang punya uang untuk melakukan apa saja. Dan seperti film action lainnya, endingnya agak mudah ditebak. The good guy wins and get his girl. Film ini memberikan scene lengkap bagi pemuja testosteron. Ada tembakan-tembakan yang sangat ribut lengkap dengan pesawat dan senjata-senjata canggih (yang mengerti soal senjata-senjataan pasti tahu jenisnya apa). Ada pula perkelahian tangan kosong ala Kungfu seperti scene Jet Li bertarung dengan Lundgren dan penyerangan Statham di lapangan basket. Aksi pisau Statham yang keren banget sampai scene wrestling antara Couture dan Austin yang katanya emang bermain di UCE dan WWE. IMHO, film ini agak mengecewakan. Plotnya tidak jelas--sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa Monroe itu harus marah-marah tiap waktu. Penduduknya merepet ketakutan. Ga logis. Psikologi yang benar, kalau menurut saya itu ya seperti di American Gangster. Tapi yah kembali lagi ke awal. Ini semua hanya tentang ekspektasi. Setelah menonton Spiderman dengan jaring laba-labanya yang sangat komikal, Stallone langsung berpendapat, film Action haruslah seperti filmnya: loud, penuh bom, senapan mesin berat, tembak-tembakan, ledakan dan api. Tidak perlu sebuah plot mendalam dengan script cerdas yang hanya sebagian orang yang mengerti. Hasilnya? Sebuah film pemacu adrenalin yang lucu dan menghibur. Apalagi bagi orang-orang yang ingin reunian dengan idola mereka. Seperti saya yang agak histeris ketika melihat Bruce Willis sama Om Arnold tampil sebagai cameo dan ngakak terbahak-bahak saat semua orang mulai menggoda Jet Li. Btw, Jet Li disini keliatan muda banget loh. Uh, i forgot that man don't age. Point? 6,5 deh. It just... not me :) Labels: review ![]() Genre: Drama | Mystery | Romance | War Director: Jean-Pierre Jeunet Writers: Sébastien Japrisot (novel), Jean-Pierre Jeunet (story), Guillaume Laurant (story and adaptation) Starring: Audrey Tautou, Gaspard Ulliel, Dominique Pinon, Ticky Holgado, Chantal Neuwirth, Marion Cotillard, Jodie Foster Tagline: Never let go Saya agak bingung ketika harus menuliskan genre film ini. Film ini bercerita tentang perang, tapi tidak dalam sisi kebrutalan dan bloodshed yang membuat muak. Film ini juga bercerita soal penantian dan cinta, tapi bukan penantian yang cengeng dan melankolis (walau pada banyak scene, mau ga mau saya menangis juga). Hm? Film ini berkisah tentang seorang kehidupan seorang gadis di WW1, Mathilde yang pernah terserang Polio saat kecil. Namun, selain kecacatan di kakinya, Mathilde adalah seorang wanita yang tegar dan tegas. Ia seorang peniup tuba, karena tuba itu menyuarakan kesedihannya. Ia juga suka berpura-pura sakit dan menyedihkan, ketika meminta pertolongan sama walinya. Dan Mathilde ini mempunyai keyakinan teguh kalau tunangannya, Manech, yang pergi berperang, masih hidup. Ia tipe cewek yang percaya tahayul seperti "If I can peel apple skin at once, Manech still alive..." or "If the condectur didn't come in seven, Manech already dead..." Dan tahayulnya itu ga sepenuhnya terbukti, tidak sepenuhnya salah juga, dan Mathilde makin percaya bahwa Manech masih hidup. Ternyata Manech merupakan salah satu dari 5 prajurit yang didakwa melakukan tindakan bunuh diri di martial court sehingga mereka di buang di tanah tak bertuan--di antara garis depan Jerman dan Perancis. Semacam delayed murderer gitu. Mereka ditaruh di zona tembakan malam-malam buta, tanpa senjata. Bisa dibayangkan kalau tiba-tiba ada penyerangan, mereka bisa aja terbunuh oleh tembakan tentara Jerman atau Perancis. Duluan mati, malah. Di pencariannya akan Manech, Mathilde menemukan banyak fakta-fakta lain. Affair yang menyedihkan, pembalasan dendam, dan banyak kisah cinta yang tragis. Ia juga menemukan bukti-bukti bahwa Manech sudah meninggal. Tapi Mathilde tidak percaya, dia ingin memastikan, with her own eye and ears, kalau Manech sudah meninggal. Endingnya sangat manis, sangat mengharukan and again bring tears back to my eyes. Film ini bisa dibilang agak berat. Penuh dengan kompleksitas tokoh-tokoh dan flashback yang banyak. Agak sulit dimengerti bila Anda tidak menghapal nama-nama dan wajah masing-masing peran dari awal. Namun selain itu, menurut saya film ini indah. Warnanya, pengambilan gambarnya, dan settingnya sangat menarik. Jenis yang saya sukai dari sebuah film. A Very Long Engagement sekilas mirip dengan film Amelie Poulain. Ya. Alurnya, keunikan kisahnya dan lelucon-lelucon Perancis yang disisipkan di banyak tempat membuat saya sekilas sedikit deja vu. Apalagi karena Audrey Tatou yang berperan sebagai Mathilde, juga menjadi pemeran utama di film Amelie. Film ini memang ditulis dan disutradarai oleh orang yang sama dengan Amelie: Jeanne Pierre Jeunet. Ahli dalam membuat film-film komikal dengan jalan cerita yang unik. Well, sebenarnya saya mendownload film ini karena pemeran utama prianya adalah Gaspard, who I love with all of my heart. Ia berperan sebagai cowok yang manis, tidak menyukai kekerasan sehingga kehilangan ingatannya akan perang dan banyak hal. Sangat berbeda dengan peran cowok sadis ala Hannibal Lester yang kemarin ia perani. So sweet dan saya sukses melting setiap melihat Gaspard muda tersenyum di film ini. lol Manech feels Mathilde's heart in his palm. Each beat brings her closer to him. If Manech were dead, Mathilde would know.... Point dari saya: 8.9/10 Nice. Should Watch! :) Labels: review One more review this month. Oh, I love being productive. lol Ah remember: SPOILER ALERT!! I warn you!! Director : Christoper Nolan Genre : Sci-Fi | Action | Drama | Fiction | Thriller Tagline : Your mind is the scene of the crime Cast : Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Tom Hardy, Ken Watanabe, Dileep Rao, Marion Cottilard and many many more Rate : R Yah yah yah. Akhirnya film yang ditunggu-tunggu keluar juga. Saya beneran beruntung bisa mendapatkan tiket film ini tanpa mengantri dan berdesak-desakan. Menakjubkan. Well, pertama-tama saya berikan standing applause yang meriah buat Christoper Nolan yang telah membuat saya officially menjadi fans sejatinya. Setelah The Prestige dan The Dark Night, Inception jelas telah mengambil sepertiga hati saya yang tersisa *lebay*. Nolan memang sutradara yahud dengan imajinasi yang luar biasa. Selain ide cerita yang begitu orisinil, penggambaran script dan pengambilan gambar yang high technical ditambah akting yang mantap. Nolan ga menyia-nyiakan sedetikpun dalam proses delapan tahun penulisan script film ini. Sebenarnya saya sendiri juga tidak bisa menjelaskan apa itu definisi akurat dari Insepsi atau bagaimana proses dan hal-hal yang terkait dengannya. Nolan, si Penulis juga menolak untuk menjelaskan karena hal ini dipandang tidak mungkin. Inception sendiri bukan bercerita mengenai bagaimana dan intrik di balik proses penyisipan ide dalam mimpi dan pemikiran bawah sadar seseorang--kita malah diminta untuk mengambil persepsi pribadi, dan film ini hanya menceritakan sebuah intrik yang terjadi dalam satu proses penyisipan. Yap, intrik. Itulah kenapa film ini juga bergenre drama. Sebagai seorang pengelana mimpi yang berperang antara rasa cinta pada istrinya dan kenyataan yang sebenarnya, Leo memang luar biasa. Emosi dan rasa kehilangannya terasa sekali. Membuat teman saya yang ikut menonton juga menangis saat Mal meninggal. Leo memang luar biasa. Saya ga bisa membayangkan Cobb diperankan oleh orang lain. Joseph Gordon-Levitt juga bermain sangat baik. Saya jadi tidak yakin kalau ini adalah orang yang sama yang bermain (500) Days of Summer sebagai cowok kurang percaya diri yang posesif. Disini ia benar-benar kelihatan kalem, cerdas, dan efisien. Apalagi saat memegang senjata. Haha. Ken Watanabe as always, he's great. Tom Hardy juga luar biasa. Yah saya tahu adegan dengan ski dan jetski itu diperankan oleh stunt tapi tetep aja saya bilang itu keren. Marion Cottilard, aksenmu~ awwwww~ Yang main jadi Robert Fisher juga oke. Dan Ellen Page amat sangat natural disini, sangat worth dan sangat Juno, walau saya agak bingung dengan perannya di tengah-tengah film. Ituloh sesaat setelah Ariadne mencuri lihat mimpi Cobb, lalu saat bangung dia bilang dia ingin ikut pergi ke Sydney dan Cobb meminta Saito untuk carikan satu tempat lagi di pesawat. Well, seharusnya Ariadne memang ikut bukan? Dia kan arsitek dari mimpinya. Ah, saya bingung. Namun memang ga ada gading yang ga retak. Ada beberapa minus poin yang merusak tontonan saya, Pertama kurang efisiennya adegan. Banyak adegan yang ga perlu yang diulang lagi, diulang lagi dan diulang sampai saya bosan. Terlalu banyak pengulangan adegan yang tidak perlu. Selain itu, film ini juga agak membingungkan di beberapa tempat, apa lagi apabila kau tidak menyimak filmnya dengan serius dan terakhir endingnya yang bikin kesel. Udah, cuma itu doang. Ga ada komentar di hal-hal bersifat teknik apalagi yang menghina script. Ga ada!! Wakaka. Last thing, Rate: 9,9 / 10 ouhhh!!! higher than imdb's. lol. Well, what should i do against more than 5000 voters there? :p WATCH IT! OR YOU SORRY! Labels: review |
About
hi.feel free to enjoy belladorra. feedbacks always welcome. Archive
Affiliates
|