| Home Change Wujudkan Petarung follow |
|
so pretty in white pretty when you're faithful..... click to enlarge Yogyakarta after "Small" Explosion Thank God it just that small :) Picts aren't mine. of course. Source: Wildan and his talented friend. Thanks a bunch *hugs* lyric : Bush - Inflatable Labels: 30 hari menulis, jogja, merapi People come and go. Nothing is forever. There is no such thing as 'forever' Never ask 'why me?' 'why my father?' It happens in everyone Time is waiting, silently, in the corner ... ![]() But, it can stop you for shed your tears, I know. So cry! and cry! and cry! Even your father won't come back, I'm sure tears will give you strength, give you courage. Nothing will quite the same now, undeniable But, what the best is: Remember him as the best father you ever had And sincere him... Death is not extinguishing the light; it is only putting out the lamp because the dawn has come. ~Rabindranath Tagore For my deary, Dian. I cant say anything beside 'be strong' honey. And please, God. Bless my parents with a long life, happiness, and grateful Coz I don't know if I'll stand like her or not Labels: 30 hari menulis, gone, life err... I know you sick of my so-love-eenie-meenie-writings :p "Nothing special in Saturday Night," You always heard this statement? Or you are the one who always said it instead? LOL Yap. I am my self, always heard that statement comes out from the one who is 'jomblo' (jomblo: don't-have-a-date-type-guy) around. It's become their self-complacency for having no date. Or maybe it's the pathetic way to get rid of envy feeling when you see pair of love-bird friends that have fun all night long. Well, I understand that feeling (since I have no date too :p) But we, 'jomblos' can make our Saturday Night be special too. How?
Labels: 30 hari menulis, stupid 1 year of SBY - Boediono's administration pictviaokezoneSadly, It's not a happy anniversary... I really think what is happening in our country is just like a big parody that isn't worth to watch. No, it's not means that this issue isn't interesting, it just contains too many different 'interests' that clash and cause trouble. A VERY BIG trouble, indeed. And the victim position always goes to us: ordinary citizens. (Well, I can't exactly define what 'ordinary citizens' is. But, I'm sure you got my point. Aren't you?) I am the one who believed that every human being in this planet have a right to speak up their mind. Freedom to speak, they said. We free to hate this, love that, denounce this, agree with that, attack this, save that or whatsoever. But, please guys, don't you got any manners before deciding to do that? Yeah. I do quite unsatisfied with 'SBY and Boediono lack of achievement' administration. I feel dizzy to their unsolved promises and their legislation's impossible dreams. Or how government didn't aware of what people mad about. I'm sure, many of you feel the same way. I appreciate persons who set aside their times to speak and to be seen by demonstrating or whatever ways, while I sit here doing my assignment. But, for pete's sake, why can they do it in humanly way? We're not animal. I hadn't made friends with bull, dog or pig, just human. And human suppose not to hurt each other, but to care and to respect another. I didn't get a point of hurting someone else just because criticize something so absurd. Why just because that silly little reason you can hurt each other and forget your truly reason of being there? To be heard, to be seen, to be aspiration duty? "Debat Kusir" is never enjoyed to watch, gents. Never. You know how sick I am when I (for i-dont-know-how-many times) heard news about anarchist demonstration.... ....did by college students who actually have some brain. It hurts my ego as academics and as a citizens. Labels: 30 hari menulis, life, self-respect 20102010 Angka cantik lagi. Saya yakin banyak orang yang memilih hari istimewa ini untuk melakukan hal istimewa. Menikah, mengutarakan cinta, pendadaran (lol), mencoba sesuatu yang baru, melahirkan, meresmikan sebuah kapal pesiar, sebagian toko mungkin tergerak untuk memberikan discount khusus, atau mungkin ada yang memilih bunuh diri di tanggal cantik ini? (aduh yang terakhir ini biarkan jadi fantasi saya saja) Yah. Atraksi dan selebrasi. Terlalu naif bila saya mengatakan bahwa saya tidak menyukai hal-hal yang berbau demikian. Dan ditanggal cantik ini, saya memilih untuk merayakan hari berhenti berharap dan melanjutkan hidup. Terdengar ambigu? Oui. Harapan itu memang merupakan sebuah sumber dari semangat untuk maju, menjadi lebih baik, sebuah iming-iming di garis finish yang membuat kita terus berlari. Namun kadang kala kita harus mengetahui harapan apa yang masih bisa diwujudkan dan mana yang tidak. Mencegah kegilaan semu akan 'harapan' itu sendiri. Katakanlah seseorang wajib menjadi idealis namun harus realistis. Nah, untuk memperingatinya, saya akan membocorkan sedikit draft saya yang lama tersimpan di folder saya. Wew, kedengaran kalau saya sudah menjadi penulis terkenal saja. Lol. Well, setidaknya saya punya kesempatan untuk memperlihatkan draft ini pada seseorang (syukur bila ada yang baca) karena sampai saat ini saya belum menyelesaikan draft ini. Yap, saya penulis yang sangat tidak berpendirian dan moody. Poor me. un “Maukah kau menghubungiku bila… kau sudah disana?” Hening. Ia hanya membuang wajahnya. Tak ingin dihinggapi kewajiban untuk menjawab pertanyaan kecilku. Lama baru ia berkata pelan, sebuah kata yang tak lebih dari sekedar gumaman samar. “Mungkin.”
-----------
Paris. Summer, 2009.
Hujan. Suara rintikan air menggema di dalam apartemenku yang kecil. Menyebarkan aroma tanah basah khas musim panas ke seluruh ruangan. Temperatur yang tadinya panas perlahan-lahan menurun seiring makin bertambahnya intensitas butiran-butiran air yang menggenangi bumi. Biasanya aku menyukai hujan. Aku akan mengambil kameraku dan mulai mengambil gambar orang yang berlarian di bawah sana. Eksekutif muda, anak-anak, ibu-ibu juga tukang susu dan tukang roti, semuanya basah dan kehujanan. Ataupun aku hanya akan sekedar mengambil gambar lautan payung bewarna-warni yang menghiasi jalanan kota Paris yang suram. Akan tercipta banyak sekali tawa dalam setiap prosesnya. Banyak sekali. Tapi tidak kali ini… Aku duduk di sofa coklat kumalku. Menatap layar televisi yang hitam sempurna karena tidak dihidupkan. Aku hanya memakai T-Shirt favoritku yang sudah lusuh, T-Shirt putih bertuliskan ‘Are you happy now?’ besar-besar bewarna merah. Ditambah sepotong celana pendek bewarna coklat dan sandal rumah berkepala panda. Dan di tangan kiriku ada sebuah handphone mungil bewarna perak yang aku beli dua tahun lalu. Hari ini genap dua tahun dia pergi. Dan ia bahkan tidak pernah meneleponku, sama sekali. Aku sudah duduk di kursi ini sejak pagi. Memilih untuk bolos kantor. Aku mematung di tempat ini sejak hari masih cerah, hari mulai hujan lalu sampai sekarang saat hujan sudah mulai berhenti. Handphone kecil ini sudah lelah menari-nari di tanganku. Tapi belum sekalipun ia berdering. Aku menatap benda mungil itu—benda kecil yang seharusnya tidak sanggup aku beli dari gaji seorang pengarah mode di majalah kecil. Benda yang aku beli hanya karena angan-anganku akan dirinya yang terlalu besar. Angan-angan agar ia bersimpati sedikit padaku untuk menekan sepuluh digit nomor hanya untuk menghubungiku. Menghubungi seorang gadis posesif yang selalu setia menunggunya. Labels: 30 hari menulis, lecture "You see a lot of smart guys with dumb women but you hardly ever see a smart woman with a dumb guy." ~ Erica Jong Why? Labels: 30 hari menulis, quote SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) merupakan sebuah software statistik yang menurut saya paling populer. Hal ini dikarenakan tools dan penggunaan yang andal, nyaman dan tidak ribet. Software ini sudah dipakai pada berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari mahasiswa dan akedimisi (seperti saya u_u), swasta, pemerintah bahkan organisasi-organisasi independen yang menggunakan SPSS dalam riset dan survey. Sebenarnya saya ngesok aja nih posting soal SPSS, padahal saya ngerti cuma sebagian kecil aja. LOL. Itupun karena ada asistensi di kampus soal SPSS, kalo ga, sampe skarang masih buta akan software ini. Saya sudah membaca buku "Pintar SPSS dalam 1 Minggu" tapi udah sebulan lewat, masih aja ga pinter-pinter. Lol. Di Perencanaan Wilayah dan Kota, SPSS biasanya digunakan dalam mengolah data kependudukan atau data ekonomi suatu wilayah. Analisis data ini sangat diperlukan bagi seorang planner sebagai sumber vital yang kaitannya sangat erat dengan daerah yang akan direncanakan. Well, saya ga usah jelasin gimana makainya ya. Temen-temen saya udah dari dulu bilang kalau saya ga cocok jadi guru atau bahkan dosen karena saya ga pinter jelasin dan seharusnya saya nyerah untuk belajar ngajarin anak orang. Haha. Nah, menghindari kesia-siaan, mari belajar mandiri, okay? :p Tutorial SPSS (in Indonesia) yang lengkap bisa di download disini. Selamat berhitung!! :) Labels: 30 hari menulis, lecture Tears are God’s gift to us. Our holy water. They heal us as they flow. ~Rita Schiano "What is the different of being women and men?" I don't exactly know why I always wandering what is the answer of that question, again and again. I never realized before, how my sexuality really matter for someone else. It never bothers me much before. But when issues about gender head up, I wonder why, I need to understand.... Why men always choosed to be the leader than women? Why most women ain't capable to do men's job but the men can do women's job? Why there is "ladies first rules"? ..... Well, need a very long time for me to understand. And I'm not fully understand yet. But something I really sure about, I feel really grateful for born as women. Yeah. Because women is soft but so strong. Why? Coz she had tears as her special privileged. Sound so naive. But, what do you feel when a men nearby shed his tears in dilemmatic occasion or just watching a sad movie? He will poorly labeled as a weak man, disgusting, and I'm sure everybody will make fun of him in the rest of his life. But when a women shed her tears, no one will make fun of her, no one will mad, no one will disgust. She maybe labeled as a tender-hearted girl who care each other. A mother will be steady event ought she should face a very difficult task, A mother will not cry she should be lived in the crush of life, A mother will not cry when she has nothing to eat or nothing to become a shelter, but She cried, when her children hungry She pleaded, when her children ill She hurt, when her children address her in a bad manner A woman wears her tears like jewelry. ~Anonymous So, when it comes to your jewelry, please use it in a correct way. You never want it to get robbed, do you? Labels: 30 hari menulis, self-respect You may be not her first, her last or her only. She loved before she may love again. But, if she loves you now, what else matters? She's not perfect - you aren't either, and the two of you will never be perfect together but if she can make you laugh, cause you to think twice, and admit to being human and making mistakes, hold onto her and give the most you can. She may not be thinking of you every second of the day, but she will give you a part of her that she knows you can break - her heart. So don't hurt her, don't change her, don't analyze and don't expect more than she can give. Smile when she makes you happy, let her know when she makes you mad, and miss her when she's not there. - Bob Marley Saya tidak tahu mengapa Bob Marley bisa begitu bijak dalam memandangan sebuah 'hubungan'. Atau mungkin, bagi sebagian orang pemikiran Bob Marley ini tidak dianggap terlalu bijak, tidak seperti saya yang merasa kedua quotenya sangat jujur dan sangat benar. Saya bukan fans fanatik akan lagu-lagunya dan bukan pula seorang Rastafarian tapi saya ikut bersedih ketika legenda ini meninggal karena kanker kulit. Good people always die first, in movie or not. Labels: 30 hari menulis, quote again, something I wrote a long time ago... Kadang, sebagai seorang manusia ia merasa ingin tahu terlalu banyak.Banyak hal yang tidak ia mengerti—dan sampai saat ini masih belum ia mengerti. Hal-hal yang tak lagi membuahkan pertanyaan namun telah menghadirkan obsesi dan pemujaan akan ketidaktahuan itu sendiri. Sebagian besar berupa hal abstrak yang tak terdefinisikan, seperti katakanlah… perasaan. Dari dulu ia selalu bertanya apa itu ‘rindu’. Meminta penjelasan tentang apa itu ‘sedih’. Mencari arti dari frase ‘kesepian’. Dan akhirnya hilang di labirin pertanyaan tentang apa itu ‘cinta’? Apakah cintalah bentuk perasaan yang dipuja oleh semua orang? Sebuah manifestasi perasaan terdalam yang mewajibkan sebuah komitmen sakral? Aksi sentuhan, ciuman dan pelukan lembut berlandaskan semua frase yang ujungnya hanya sebuah bentuk lain dari nafsu duniawi? Ataukah hanya sebuah nafsu untuk memiliki objek yang ‘dicintai’ bagai seorang kolektor pribadi? And she gets no answer— —because maybe there is no answer. In desperate hope I go and search for her In all the corners of my room; I find her not* * poem by Tagore - A Brick To Eternity. Pict source: here Labels: 30 hari menulis, life, self-respect Director : David Frankel (2 episodes), Mikael Salomon (2 episodes) dll Genre : Adventure | Drama | History | War Tagline : They depended on each other. And the world depended on them Cast : Scott Grimes, Damian Lewis, Ron Livingston, Shane Taylor and many many more Rate : PG-17 (for me) Series ini, tak ayal menjadi sebuah maha karya bagi orang-orang yang menyukai genre film perang dan sejarah. Buktinya film ini ber-rating 9,6 dengan voters sebanyak 76,180 orang. Ha! Padahal menurut saya film dengan rating 7,5 di IMDB saja sudah waw. Series ini diangkat dari buku Stephen Ambrose—calon dokter yang berbelok menjadi sejarahwan militer—yang juga disadur dari kisah nyata para Citizens Solidier yang tergabung dalam Easy. Band of Brother adalah sejarah kompi bernama Easy Company dari 101st Airborne Division U.S Army. Sebuah kompi para penerjun payung legendaris di WWII mulai dari pelatihan mereka, Inggris, D-Day, Normandia, Belgium sampai ke Eagle Nest Hitler di Berchtesgaden, Germany. Ya, film ini memang berbeda dari film perang yang lain. Katakanlah... sebuah film perang yang manusiawi. Tidak melulu soal Jendral yang nama-namanya dituliskan dalam sejarah namun malah menceritakan tentara-tentara dengan pangkat rendah yang benar-benar mempertaruhkan nyawa di medan pertempuran. Memperlihatkan bagaimana seseorang yang begitu matang dalam melatih perang selalu tersesat ketika membaca peta, bagaimana seorang prajurit membeku dalam perang di bawah salju, bagaimana seseorang begitu takut dan lelah ketika melihat casualty yang terlalu sering terjadi. Dengan kata lain, memperlihatkan pada kita sisi perang dari sudut pandang man who never got to enjoy the world without war. Sudut yang menurut saya sangat humanis. Interview dengan para veteran Easy Company yang berada di awal dan di akhir film membuat kisah ini terasa sangat nyata. Apalagi ditambah dengan efek perang yang worth seperti suara tembakan, bom dan artillery yang dahsyat membuat kita benar-benar merasa berada di tengah-tenah sebuah peperangan sengit. Masing-masing episode dikemas dari sudut pandang orang-orang yang berbeda. Episode favorit saya adalah Bastogne yang diambil dari sudut pandang Doc Roe. Saya terhenyuh sekali melihat kegigihan dia untuk menyelamatkan orang diantara lautan peluru dan ledakan dan kegetirannya ketika ia harus bersembunyi dan menyelamatkan diri sendiri ketika teman-temannya menyambut gencatan senjata yang terjadi. Hiks. Apalagi quote dari Nurse Renee yang benar-benar made me realized how hard to be there... "Doc Roe: You're a good nurse. Renee: No. I never want to treat another wounded man again. I'd rather work in a butcher's shop." Secara keseluruhan, film ini tidak hanya menampilkan adegan-adegan yang menghibur dalam konteks 'tontonan dan penonton' tapi juga mengajari kita banyak. Mulai dari pengorbanan orang yang terlibat dalam perang, paradigma akan kematian dan kebrutalan manusia dan tentunya membuat saya yang awam soal banyak sekali istilah-istilah militer menjadi sedikit tercerahkan. Sebagai seorang yang tidak menyukai film perang (lebih karena saya tidak suka melihat darah daripada tembak-menembaknya), film ini tetap akan saya jadikan koleksi. Point: 9,3 :) And Crispin Crispian shall ne'er go by, From this day to the ending of the world, But we in it shall be remember'd; We few, we happy few, we band of brothers; For he to-day that sheds his blood with me Shall be my brother; be he ne'er so vile, This day shall gentle his condition: And gentlemen in England now a-bed Shall think themselves accursed they were not here, And hold their manhoods cheap whiles any speaks That fought with us upon Saint Crispin's day. ~ Henry V, Act IV, Scene 3. Shakespeare. PS: Ternyata James McAvoy main satu episode looooh! Cukup mengejutkan dan membuat saya bertanya-tanya apa bener itu dia! lol Labels: 30 hari menulis, review He’s not perfect. You aren’t either, and the two of you will never be perfect. B...ut if he can make you laugh at least once, causes you to think twice, and if he admits to being human and making mistakes, hold onto him and give him the most you can. He isn’t going to quote poetry, he’s not thinking about you every moment, but he will give you a part of him that he knows you could break. Don’t hurt him, don’t change him, and don’t expect more than he can give. Don’t analyze. Smile when he makes you happy, yell when he makes you mad, and miss him when he’s not there. Love hard when there is love to be had. Because perfect guys don’t exist, but there’s always one guy that is perfect for you. – Bob Marley Labels: 30 hari menulis, quote pictfromhere Gitanjali atau dalam bahasa Inggris disebut Song Offerings, merupakan kumpulan prosa dan puisi karya Rabindranath Tagore. Tak perlu membaca review dari saya untuk menyatakan kalau buku ini sangat indah. Banyak kritikus sastra, seperti W. B. Yeats yang menghargai buku sebagai sebuah karya agung. Karya yang mendatangkan Hadiah Noble Kesusasteraan bagi Tagore—orang Asia pertama yang mendapatkan kehormatan untuk menerima penghargaan itu. Aslinya buku ini ditulis dalam bahasa Bengali baru kemudian hari diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Tagore sendiri. Untaian kalimat yang digunakan Tagore membuat hal-hal yang biasa kita temui terlihat begitu bermakna. Membuat kita yakin yakin betapa ia menghormati Tuhannya. Dengan rasa hormat yang begitu dalam, Tagore menunjukkan rasa syukurnya juga rasa cintanya yang begitu dalam. Menyalurkan rasa rindunya yang begitu besar pada KeMahaan yang Maha Kuasa. Buku ini begitu mistis menurut saya. Menggambarkan kedekatan dan keakraban Tagore pada Tuhan, membuatnya tak lagi takut dengan kematian. Ia menyambut takdirnya itu dengan tangan terbuka. Membuka mata saya akan banyak hal tentang hidup dan menyadarkan diri saya kalau selama ini saya kurang bersyukur.*sigh* Bacalah, dan anda akan tahu mengapa banyak orang memuliakan tulisan Tagore... Hari demi hari kau membuatku berharga dengan pemberian yang sederhana dan agung yang kau berikan padaku tanpa diminta — langit ini dan cahaya, tubuh ini hidup dan pikiran — menyelamatkanku dari bahaya akan gairah yang berlebihan. ~ Gitanjali, Tagore Ah... Happy 101010 everyone! Come make a special thing in this special day!>_< Labels: 30 hari menulis, book, life, review |
About
hi.feel free to enjoy belladorra. feedbacks always welcome. Archive
Affiliates
|